DARAH YANG TAK DIHARGAI


By : Nia Tri Lestari (niaatri_l)

 

Matahari mulai menampakkan sinarnya, birunya langit menyambut kehangatan di pagi hari, Angin pagi yang mengudara menyampaikan pesan kedamaian pada dunia dan perbukitan yang  menghijau menambah keeksotisan di negeri ini.

Pemikiranku hilang melayang terbang, entah apa yang ingin aku gapai dikeheningan pagi ini. Kutatap merah putih di halaman rumahku sorotan mentari berbalut warna merahnya  merasuk jiwa membakar semangat dalam diri yang membuat mataku tak ingin terpejam kembali.

Hari semakin siang aku bergegas pergi dari rumah menuju tempat pertemuan dimana para pemuda merah putih bersatu membentuk komunitas yang bernama komunitas pancasila, canda dan tawa mulai menggelegar kesetiap sudut ruangan. Keisya yang sedang asik membaca buku tiba – tiba berteriak “KITA HARUS BANGKIT!!”

“Keisya kau ini kenapa? Hampir saja kau buat kami semua jantungan” tanya Arthur dengan nada khasnya yang tegas dan menawan

“Ada apa keisya, mengapa kamu berteriak sekencang itu?” tanyaku sedikit heran

“hehe maaf semuanya aku terbawa oleh suasana” jawabnya

“Arthur kegiatan apa yang akan kita bahas hari ini?”sela Fauzan

“Entahlah aku belum punya ide untuk kegiatan kita selanjutnya”

“Bagaimana jika peduli sesama atau mungkin reboisasi.” usul Aina

“Kurasa itu ide yang bagus, tapi apakah mungkin tema kegiatan kita sama dengan kegiatan dua minggu yang lalu.” sanggah Keisya

“Lantas kegiatan apa yang akan kita lakukan? Sedangkan sudah satu minggu yang lalu kita tidak mengadakan kegiatan bersama” sahut Fauzan

“Sudahlah kita bahas esok saja, hari ini aku sedang ada acara, mungkin untuk bulan ini kita tiadakan kegiatan dulu saja, untuk waktu selanjunya akan aku beritahu segera dan tugasmu Stevani memberi tahu yang hari ini tidak berangkat ya.”  Pesannya kepadaku.

Matahari telah tepat berada diatas kepala, itu menunjukan hari menjelang siang. Aku memutuskan untuk pulang bersama Keisya yang akan menginap di rumahku malam ini. Saat menikmati teriknya sang surya, sejenak aku terdiam melihat lelaki paruh baya yang sedang duduk di bawah pohon, hatiku bergetar dan teriris ketika kudengar kata yang ia lontarkan “bangkitlah wahai pemuda..!! dimana hati nuranimu sekarang? Kemana jiwa patriotisme mu? Kemana rasa cinta tanah air mu? Kau tega rusak bangsa ini !! kau rusak dengan kebahagiaanmu sendiri! kau tega makan uang bangsa, kau memilih kedudukan hanya untuk mengangkat namamu! Wahai pemuda… kenapa kau tak pernah memikirkan bangsa mu! “ Keisya yang melihatku terdiam langsung menarik tanganku untuk segera pulang dan menjauh dari tempat itu.

“Keisya kenapa kamu menarik tanganku?”

“ Stevani apa kamu tidak tahu lelaki paruh baya tadi itu sudah gila.”

“Kamu tidak boleh berkata seperti itu, kalau belum ada informasi yang akurat.”

“Siapa bilang tidak akurat, orang – orang banyak yang bilang begitu.”

“Lantas apa yang membuat ia menjadi seperti sekarang ini?”

“Dua puluh tahun yang lalu ia kehilangan istri, anak dan keluarganya yang terbunuh tragis.”

“Sungguh kasihan sekali, lalu dengan siapa ia tinggal sekarang?”

“Ia kini hidup sebatang kara di gubuk kecil yang  tak jauh dari pohon tadi, hmm sudahlah kita tidak usah membahas orang itu lagi.”

Malam menyambutku kembali dengan angin dan keheningannya, gemricik hujan yang membentuk irama sendu, sahabat yang terus membuatku tersenyum menyatu dengan pekatnya kegelapan langit. Dan saat ini malamku terasa lengkap meski tak ada yang menemaniku seperti waktu dulu. Seseorang yang menjadi kekasih pertama dan kekasih setiaku dari kecil yang selalu menjaga dan menemaniku bermain. Susah, dan bahagia aku lakukan dengannya. Tapi sekarang aku mulai menjalani hidupku  tanpanya, karena takdir dan waktulah yang telah menyatukan dan memisahkan kita berdua. Di dalam lamunanku Sontak dalam hati aku berkata indonesia adalah negara yang sangat indah yang memiliki berbagai sumber daya alam yang cukup banyak di tiap sudut pulaunya. Namun mengapa banyak terjadi tindak kriminal dan hukum dengan mudahnya bisa dibeli dengan uang.

“Keisya apakah tadi kamu mendengarkan perkataan dari lelaki paruh baya itu.”

“Iya fan aku sedikit mendengarnya, memangnya kenapa?”

“Kalau aku pikir – pikir ucapannya itu ada benarnya juga, buktinya di luar sana memang banyak para pejabat yang memakan uang bangsanya sendiri bukan?”

“Iya juga fan banyak pula yang mengelu – elukan jabatan demi mengangkat nama mereka.”

“Aku jadi semakin penasaran dengan lelaki paruh baya itu, bagaimana jika esok kita menemuinya saja?” ajakku kepada Keisya.

“Oke kalau begitu, esok pagi kita akan menemuinya.”

Hari begitu cerah menemani langkah kakiku dan Keisya menuju tempat dimana lelaki paruh baya itu tinggal, sesampai di sana terdengar ucapan yang sama seperti hari kemarin, kusodorkan makanan kecil untuknya. Ia menatap Keisya dan  Aku penuh gembira ia tersenyum penuh kehangatan hingga membuat aku tak takut untuk lebih dekat dengannya.

“Pak…, mengapa bapak selalu mengucapkan kata – kata itu setiap harinya?” tanyaku heran

Hanya dengan senyumnya saja ia menjawab pertanyaanku.

“Apa bapak tidak pernah bosan mengucapkan kata – kata yang sama?” Keisya menyela,

“Nak.. saya tidak akan pernah bosan dan berhenti mengucapkan hingga berhenti detak jatung dan darah tak lagi mengalir lagi ditubuh saya,  mengapa kalian memberanikan diri datang kemari?.”

“Kami sengaja datang kemari karena kami ingin tahu apa alasan bapak mengucapkan kata yang sama tiap harinya.” jawabku

“Apakah kalian tahu apa pesan Bung Tomo saat detik detik kemerdekaan?”

“Tidak .” jawab kami serempak

“Jangan perbanyak lawan, tetapi perbanyaklah kawan, selama banteng – banteng indonesia masih mempunyai darah merah yang membuat secarik kain putih merah dan putih maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapapun juga.” Itulah jawabannya.

“Kami tidak paham dengan perkataan bapak.”

“Suatu saat kalian pasti akan paham dengan kata– kata itu.”

“Lantas siapakah bapak sebenarnya mengapa bapak tahu pesan Bung Tomo kala itu.” Tanya Keisya

“Dulu saya adalah anggota dari pasukan yang ikut dalam peperangan untuk menumpas kekejaman yang ada di bangsa kala itu.”

“Selain Bung Tomo apakah bapak ingat pesan dari para pahlawan kala itu?” tanyaku menyelanya,

“Ya tentu jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bagsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pula di peta.

Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan ibu pertiwi. Itulah pesan dari Moh Hatta.”

Aku dan Keisya sontak terdiam mendengarkan pesan yang begitu indah dan membuat hati kami berguncang.

“Apakah kalian pernah berfikir, bangsa ini sudah goyah ? para pemuda telah mengabaikan pesan para pahlawan yang telah berjuang mati – matian, darah bercecer di setiap sudut negeri bangsa ini, bukannya menghargai dan memperjuangkan kembali malah mereka asik sendiri, mementingkan jabatan supaya disanjungi, memakan harta bangsa bumi pertiwi, mereka tak pernah sadar bahwa mereka telah di bodohi”.

“Apakah alasan bapak tak ingin bangsa ini terpuruk kembali? ” tanyaku.

“Itu salah satunya, dan saya meneriakkan kata itu karena saya ingin para pemuda bangkit kembali menata rapi bangsa ini”.

“Sungguh saya telah salah sangka, saya kira bapak sudah terganggu kejiwaannya ternyata itu tidak benar justru bapak adalah penerang bagi bangsa ini yang tak ingin membiarkan bangsa ini kembali runtuh.” sela Keisya.

“Tidak apa – apa nak, banyak yang mengira saya sudah gila dan saya bahagia karena dengan begini ada pemuda yang masih perduli dengan bangsa ini seperti kalian”.

 

Aku terdiam sejenak rasanya aku ingin Berteriak sekeras mungkin hingga para pemuda dan pemimpin bangsa ini  mendengar nya,  supaya mereka kembali bangkit menata negeri ini, menghilangkan sifat iri dan dengki,  memberantas korupsi , dan terorisme di bangsa ini. Sungguh pepatah tak hanya pepatah saja melainkan sebuah kebenaran adanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sudah seharusnya kita menghargai mereka melanjutkan semua perjuangan mereka, dan mensejahterakan mereka sebagaimana mereka mensejahterakan bumi pertiwi demi kemakmuran NKRI.  Bukanya malah memanfaatkan kodisi demi mengisi perut sendiri.

Pict by : https://pbs.twimg.com/media/B2C-WLeCMAAo6jY.jpg:large

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
0
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DARAH YANG TAK DIHARGAI

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format