Sepenggal Bebal di Bus Kota


        oleh: Riza Indriyasta

 

Belakang…belakang!” suara parau sang kernet masih saja memaksaku untuk terus mencoba membelah penumpang yang semakin tumpat. Ah, aku rasa dia tidak akan pernah peduli akan kekesalan para penumpangnya.

 

Bahkan seorang penumpang yang mencoba protes pun tidak dia hiraukan. “Dasar para pengejar setoran!”

 

Kuakui, sedikit geram memang. Sambil sesekali melihat wajah berminyak kernet itu, aku terus berusaha menemukan space untukku. Dan beruntung, ada seorang ibu-ibu yang menawarkan berbagi bangku denganku. “Mriki1 mas, masih muat satu lagi!” dari logat bicaranya, aku menebak dia golongan orang ngapak2. Dengan berusaha ramah aku berterimakasih padanya.

 

Kalau berbicara tentang kenyamanan, tempat dudukku sangat jauh dari kategori itu. Bagaimana tidak, deretan tempat duduk belakang yang idealnya hanya diduduki empat sampai lima penumpang, kini diduduki enam penumpang. Lebih parahnya lagi, satu penumpang di antara kami memiliki badan dua kali dari badanku. Ironis. Namun ada satu hal yang bisa membuatku sedikit bernapas lega, aku duduk di dekat jendela. Kenapa? Setidaknya aku bisa menyaksikan pemandangan luar dari pada harus melihat wajah-wajah berminyak –kepanasan – para penumpang.

 

Sekarang bus berubah menjadi oven raksasa yang dengan detail memanaskan setiap inci dari kue-kuenya. Tidak bisa dipungkiri, hal itu semakin membuat geram para penumpang. Apalagi ketika salah satu penumpang kembali bertanya kapan tepatnya bus akan berangkat, dan si kernet gembul dengan santai menjawab, “Nanti, kalau bus sudah penuh.” Sontak saja jawaban si kernet membuat suasana bus menjadi semakin panas. Bahkan kulihat ada seorang ibu-ibu muda yang balitanya mulai merengek kepanasan, mulai berani mengeluarkan unek-uneknya. “Penuh-penuh, pak kenek kenapa bapak tidak ngenek pesawat saja, biar muat banyak penumpang. Lha wong, bus sudah penuh gini, masih aja mau naikin penumpang!” Sungguh seorang ibu muda yang pemberani.Dengan terpaksa aku berusaha menikmati keadaan ini. Ya, aku harus membayangkan ini surgakku sendiri.

 

“Mas, turun di mana?” sambil terus mengibaskan kipasnya, ibu-ibu di sampingku—tepatnya ibu-ibu yang menawari tempat duduk— bertanya ramah padaku.

 

“Saya turun di Yogyakarta Bu,” kembali aku berusaha ramah padanya.

 

Tanpa aku menanyakannya pun, ibu-ibu kipas langsung nyerocos cerita tentang dari mana dia, mau ke mana, dan kenapa. Benar dugaanku, ibu-ibu kipas memang orang ngapak. Dia berasal dari Purwokerto. Dari obrolan kami, aku tau dia sedikit mirip dengan ibuku. Atau memang semua ibu akan seperti itu? selalu ingin tau dan khawatir terhadap anaknya.

 

Kini bus yang sedari tadi membuat penumpangnya kesal mulai merangkak menyusuri bentangan garis aspal. Hal ini membuat wajah-wajah para penumpang yang kebagian tempat duduk sedikit lega. Mereka mulai melakukan aktifitas untuk mengisi perjalanan mereka. Ada yang mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada juga yang mulai menyenderkan kepalanya untuk mengarungi dunia mimpi. Kulihat ada seorang bapak-bapak berkumis irit menatap iri seorang ibu-ibu yang sedang berbasa-basi kepada anak perempuannya, bertanya tentang apakah anaknya mempunyai pekerjaan rumah dari sekolahnya? Lucu. Entah apa yang bapak- bapak berkumis irit itu irikan. Entah tentang anak perempuannya ataukah tentang tempat duduknya. Kalau tebakkanku, itu tentang tempat duduknya. Karena memang bapak-bapak berkumis irit tadi sudah berdiri bahkan sejak bus masih tenang berdiam diri. Perlu diketahui, balita anak ibu-ibu pemberani tadi sudah tidak menangis lagi, dia sudah terlelap di alam mimpi.

 

Kulihat penumpang di deretan bangkuku sudah pada terlelap sendiri-sendiri. Mungkin mereka tidak akan pernah menyadari bahwa deruan bus ini lebih mirip dengan batuk kakekku di rumah. Berderu lemah tapi pasti dan dengan diiringi decitan sesekali. Baiklah, aku pun harus mulai mencari aktifitasku sendiri. Ah, melihat ibu-ibu kipas tadi, aku jadi semakin teringat ucapan ibuku sebelum berangkat tadi.

 

Le, ibu kepingin ke kosanmu, ibu juga pingin berkunjung ke tempat kerjamu. Kapan ibu mau diajak?” Bahkan pertanyaan sederhana dari ibuku, aku tak bisa menjawabnya. Sebenarnya bukannya tak bisa, tetapi memang aku tidak memiliki jawabannya.

 

“Ini Bu, uang buat membayar SPP Rani.” Untuk mengalihkan pembicaraan, aku menyodorkan uang seratus ribuan dua lembar kepada ibu.

 

Melihat hal tersebut, ibuku langsung lupa tentang pertanyaannya. Dengan gembira ibu mengucapkan terimakasih dan segudang doa tulus untukku. Ah ibu, aku jadi semakin ingin membahagiakanmu. Biar sedikit kuceritakan tentang diriku. Aku anak sulung dari dua

 

bersaudara. Adikku seorang perempuan yang masih kelas satu sekolah menengah. Itupun dengan beasiswa karena kepintarannya. Adikku memang sangat berbeda denganku. Mungkin dia mewarisi sifat ayah, sedangkan aku sifat ibuku. Aku bukan orang yang pintar apalagi sampai mendapatkan beasiswa. Ah, aku hanya orang yang mampu membaca, menulis dan berhitung saja. Oleh sebab itu sekolahku tidak sampai SMA seperti adikku. Namun karena pengalamanku, aku mampu menutupi kekuranganku. Apalagi tentang berpakaian. Kalau aku sudah berpakaian orang-orang tidak akan mengira bahwa aku hanya lulus SMP saja. Hidup di kota memang benar-benar sangat membantuku untuk mengikuti trend berpakaian.

 

Teriakan penjual buah di bus membuyarkan lamunanku. Penjual itu berisik sekali. Dia memberikan tester jeruknya ke setiap penumpang termasuk aku. Lumayan lah, untuk sekedar membasahi tenggorokan. Aku berharap ocehan penjual jeruk tadi tidak membangunkan orang- orang yang sudah nyaman dalam dunia mimpinya, terutama orang-orang yang duduk sederet denganku. Biarlah mereka merasa nyaman sampai ke tempat tujuan.

 

Pahaku mulai pegal. Lagi-lagi aku beruntung karena si kernet sudah berteriak “Pasar Gamping siap-siap…Pasar Gamping siap-siap!” leganya…itu tandanya tempat tujuanku sudah dekat. Aku memang turun di Pasar Gamping. Seperti biasa, teman-teman kerjaku akan menungguku di sana.

 

Sambil menunggu bus berhenti di Pasar Gamping, sesekali aku memperhatikan keadaan. Sekilas kulihat beberapa anak punk genjrang-genjreng bermain gitar di jalan. Mereka benar- benar terlihat seperti preman urakan. Melihat hal tersebut, sepasang kakek nenek di depanku menjadi punya topik pembicaraan setelah dari tadi kuperhatikan mereka hanya saling bungkam di sepanjang jalan.

 

“Kek, kata anak kita sekarang tambah rawan. Banyak aksi penjambretan, pencopetan, hipnotis, ah pokoknya mengerikan.” Si nenek mulai membuka pembicaraan. “Pasti pelakunya para brandal-brandal seperti tadi.”

 

Dengan santai dan agak tidak begitu memedulikan si kakek menjawab “Ya sudah, kita harus lebih berhati-hati sama berandal-berandal seperti tadi.”

 

Sebelum bungkam kembali si nenek menimpali, “Sudah kumal lha kok masih memakai anting di mana-mana. Aku yakin, mereka pasti para pelaku kriminal kota.”

 

Mendengarkan obrolan mereka dalam hati aku sedikit tertawa. Lucu. Orang-orang menilai orang lain hanya dari cara berpakaian dan penampilan mereka. Syukurlah aku termasuk orang yang berpakaian wangi dan rapi, jadi orang-orang tidak akan mengumpatku seperti yang mereka lakukan terhadap para berandalan tadi.

 

Akhirnya aku sampai di Pasar Gamping. Sebelum kakiku melangkah keluar dari bus, lamat- lamat kudengar ucapan seorang lelaki, “Iya, sekarang banyak pencopet. Apalagi di angkutan umum seperti ini.” Hanya itu yang aku dengar. Biarlah.

 

Sedikit menyebalkan, teman-temanku belum ada satu pun yang menjemputku. Sambil terus berdiri aku mengamati keadaan di sekitarku. Untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Tidak berada jauh dariku, ada seorang nenek-nenek bertangan satu menarik perhatianku. Dia seorang penjual rebung. Di depannya tergeletak lima rebung yang sudah dibungkus dengan plastik kecil-kecil. Dari yang kudengar, satu bungkus dibanderol seharga dua ribu lima ratus rupiah. Aku jadi terharu. Betapa terkejutnya aku ketika nenek bertangan satu menolak uang pemberian dari orang yang hanya merasa iba kepadanya, dan bukan untuk membeli dagangannya.

 

Dengan tegas nenek bertangan satu menjawab, “Tidak terimakasih, saya di sini untuk bekerja bukan untuk meminta-minta.”

 

Melihat kelakuan nenek tangan satu tadi, seketika ombak bergejolak di dalam dadaku. Aku tercekat. Pipiku memanas. Entah apa yang aku rasakan. Semuanya bercampur menjadi satu. Andai aku wanita, pasti aku sudah menangis. Aku malu. Benar-benar merasa malu.

 

Woi, Selamet.” Rojak teman kerjaku menepuk bahuku. “Nunggu lama ya? Gimana hari ini, Operasi mudikmu lancar kan?”

 

Lidahku begitu kelu. Alhasil aku hanya diam. Itu karena gemuruh di dadaku masih sama besar seperti waktu lalu. Perasaanku masih campur aduk. Aku kehilangan kendali atas diriku. Badanku bergetar. Untuk mencegah Rojak bertanya, aku segera mengeluarkan semua isi ransel cokelatku –ransel yang selalu setia menempel di punggungku. Setelah semua isinya kukeluarkan, aku segera memberikannya pada Rojak. Rojak tampak begitu bahagia menatap dompet-dompet yang tergeletak di tangannya. Tidak apa, aku akan membiarkan Rojak bahagia

 

menatap hasil kerjaku kali ini. Setidaknya untuk yang terakhir kali. Karena aku berjanji, aku tidak akan pernah nyopet lagi.

 

 

 

 

 

1 Mriki : bahasa jawa yang artinya kesini.

 

2 ngapak: bahasa orang jawa yang biasanya menggunakan kata nyong dalam menyebut aku.

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
0
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sepenggal Bebal di Bus Kota

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format