Refleksi Erotisme Dalam Masyarakat Ditinjau Dari Karya Sastra


Oleh: Pradina Ziani Ardia Hanum

 

Nuansa erotis saat ini bukanlah hal yang tabu ketika dibicarakan dalam ranah karya sastra. Apalagi, nuansa erotis dalam ragam karya sastra kini perlu dipertimbangkan karena merupakan salah satu genre yang cukup digemari dari remaja hingga orang dewasa. Selain mampu membawa moral serta etika pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat, karya sastra yang pada hakikatnya adalah produk budaya, dalam konteks ini berperan sebagai media untuk menyuarakan kritik sosial yang seharusnya ditanggapi secara kritis oleh seluruh kalangan masyarakat.

 

Erotisme seringkali menimbulkan penafsiran negatif di hadapan masyarakat, terutama pada karya sastra yang ditulis oleh perempuan tidak bisa begitu saja dikatakan sebagai karya yang memicu pelecehan terhadap kaum perempuan. Masyarakat perlu memahami bahwa keerotisan yang dimunculkan ke permukaan karya sastra menjadi rumit diperbincangkan karena teori pengkajian dasar yang digunakan masih diperdebatkan. Selanjutnya, jika nuansa erotis ditafsirkan dengan benar dalam penyajian karya sastra adalah hal yang wajar. Hal ini berkaitan dengan masyarakat dan kehidupannya sebagai objek dalam karya sastra direfleksikan dengan kata-kata khas melalui bahasa sebagai medium fiksi, sehingga erotisme dalam karya sastra sama sekali berbeda dengan apa yang disebut pornografi. Penulis biasanya menggunakan metafor atau simbolis dalam penceritaan teks erotis.

 

Berbagai latar belakang pengangkatan tema erotisme yang mengandung unsur  seksualitas dalam karya sastra bisa disebabkan oleh perbedaan tujuan masing-masing penulis. Dimulai ketertarikan terhadap hal erotis itu sendiri, rekonstruksi pemikiran sebagian masyarakat yang represi terhadap organ seks, aspirasi berbentuk kecaman terhadap kejahatan seks yang sedang marak terjadi, bahkan sebagai penggambaran sisi lain kisah romantis yang kerap dibumbui efek erotis. Di tengah perbedaan latar belakang penggarapan tema erotisme, posisi penulis juga patut dipertanyakan, selain sebagai anggota masyarakat yang juga menikmati hal-hal erotis, penulis yang mempertahankan identitas dan ciri khas, ataukah sebagai provokator perang gender dalam karya sastra.

 

Polemik Erotisme dalam Karya Sastra

 

Dalam cerpen “Aroma Kenanga”, Teguh Affandi menggambarkan sisi lain pernikahan yang hanya dilandasi dengan alasan nafsu birahi. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan pola pikir masyarakat yang menjunjung perasaan. Sementara, tokoh utama dalam cerita ini begitu mengutamakan birahinya tanpa memperdulikan suasana yang terjadi di sekitarnya. Konflik yang dimunculkan akibat erotisme ini yaitu pertentangan dari sudut perempuan yang diperlakukan sebagai pemuas birahi, tak selayaknya diperlakukan sebagai seorang istri.

 

Beralih ke dalam konteks teks erotis sebagai bahasa, Jean (dalam Hoed, 1994:13) menyimpulkan bahwa inti dari teks erotis adalah timbulnya hasrat.Teks erotis tidak harus secara langsung mengacu pada libido, tetapi pada hasrat yang didasari libido (birahi), misalnya terlihat dalam cerpen “Jangan Main-Main dengan Kelaminmu” karya Djenar Maesa Ayu tahun 2004 yang sangat fenomenal hingga mengalami beberapa pencetakan ulang. Karya Djenar memang khas dan memiliki beberapa tujuan, diantaranya menolak represi terhadap organ seks, dan pengukuhan identitas atau karakteristik dalam cerpen-cerpennya. Cerpen ini menggambarkan tentang sisi lain pernikahan juga, masih dengan alasan birahi, yang suaminya sama sekali jarang bergairah ketika melihat istrinya. Kejadian ini dikarenakan sang istri mempunyai postur dan lekuk tubuh yang sama sekali tidak menarik ataupun membuat birahi suaminya bangkit. Namun di akhir cerita, suami tetap saja menyesal ketika sang istri hamil. Ironisnya, sang suami menganggap kejadian ini sebagai ‘kecelakaan’ karena bermain-main dengan kelamin.

 

Teguh Affandi dan Djenar Maesa Ayu dalam kedua cerpen ini sama-sama mengangkat erotisme ke permukaan karya sastra. Perbedaannya terletak pada gender dari kedua penulis ini serta teknik penggaran dalam cerpennya. Melalui karyanya, mereka sebenarnya sudah mengacu ke arah polemik erotisme yang dibahasakan melalui medium fiksi namun juga tak jarang terjadi di realita. Meski demikian, keduanya yang menceritakan cerpen dalam sudut pandang orang pertama meninggalkan amanat kepada para pembaca agar tak melulu mengatasnamakan cinta ataupun pernikahan untuk memuaskan birahi. Teguh Affandi menghadirkan ironi seorang istri yang ditinggalkan suaminya begitu saja karena sudah tak mempunyai payudara, sementara Djenar menceritakan ironi yang saya yakin memang benar-benar terjadi di kehidupan masyarakat.

 

Berbeda dengan cerpenis Bernard Batubara, dalam kumpulan cerpennya “Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri” melahirkan potret sisi cinta yang kelam didasari dengan erotisme. Bernard memiliki persprektif tersendiri terhadap erotisme untuk merepresentasikan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat atau untuk menyelesaikan cerita yang dibangun dalam imajinasinya sendiri. Secara tidak langsung, Bernard menggugah para pembaca melalui tulisan erotisnya yang kebanyakan diperankan oleh tokoh utama yang masih dibawah umur untuk menolak represi pikiran anak kecil yang menganggap alat genital merupakan suatu yang membahayakan.

 

Ditinjau dari budaya yang berkembang akhir-akhir ini, trend erotisme dalam karya sastra yang digandrungi memang membanggakan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa dengan dituangkannya tulisan erotis secara gamblang sebagai karya sastra memberikan kecenderungan untuk penulis pria maupun wanita menjadikan tulisan-tulisan tersebut tidak lagi sebagai hal yang sensitif melainkan sudah menjadi tulisan-tulisan biasa pada umumnya. Paradoks keberanian penulis wanita dalam mengangkat tema erotisme yang bercerita tentang seksualitas saat ini berubah layaknya jamur di musim hujan karena peminatnya begitu tinggi.

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa teks bukanlah alat utama yang menampilkan suasana atau kegiatan erotis. Apa yang telah dipaparkan diatas dapat dimaknai dari dua sisi mengingat penafsiran keerotisan sebuah karya sastra yang bergantung pada penafsiran para pembaca. Akan tetapi, munculnya rentetan kalimat yang mengandung birahi dan memunculkan libido dapat berdampak erotis dalam pikiran pembaca.

 

Lebih lanjutnya, dapat disimpulkan juga bahwa makna pornografi berbeda dengan erotisme. Analisis bentuk seharusnya digunakan untuk mendapat pemaknaan dari bentuk erotisme tersebut, dengan cara menafsirkan kedua bentuk kata itu dan mengartikannya kembali.Namun sayangnya, di Indonesia kerap kali masyarakat menganggap erotisme karya sastra sebagai karya porno. Tak jarang, perspektif ini berdampak pada pelarangan penerbitan karya sastra erotis karena dianggap porno. Peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan seksualitas belum dapat diterima dengan baik dalam sebuah karya sastra karena budaya yang dasarnya dimiliki masyarakat masih menganggap erotisme bagian dari hal yang sensitif dan dapat mempengaruhi pikiran pembacanya.

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
0
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Refleksi Erotisme Dalam Masyarakat Ditinjau Dari Karya Sastra

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format