Kenangan atau Kebahagiaan


Beberapa bulan lalu, aku memiliki teman yang tak terduga. Perkenalanku dengannya tidak secara sengaja. Sebut saja ia bernama Sani. Saat pertama kenal, aku hanya basa-basi saja karena pacar Sani dekat denganku. Sesungguhnya, aku sudah mengetahui Sani sejak aku duduk di bangku SD karena Sani adek kelasku. Sampai sekarang aku duduk di bangku SMP, ia juga adik kelasku.

Seiring waktu, aku semakin dekat dengannya. Awalnya, setelah ia tahu jika pacaranya dekat denganku, ia selalu curhat walaupun kadang aku cuek menanggapinya. Saat bertemu di sekolah, kita hanya saling senyum. Saat itu juga, adik kelas banyak yang mengenalku sebelum Sani. Setiap hari, hpku tidak pernah sepi karena banyak chat dari sana-sini. Aku sungguh merasa bahagia, karena aku tak pernah merasa sepi dan menambah temanku. Tiba-tiba Si Sani ingin foto bareng aku. Aku merasa bingung, di dalam hati “baru kenal kok sudah gitu”. Namun, aku tetap menghargainya dengan menyetujui hal itu. Di sekolah, aku sering melihatnya, tetapi tak pernah memanggil. Mungkin karena malu, gengsi, atau lainnya. Dan akhirnya, aku mengajak ketemu pada hari Minggu karena aku ingin mengerti sifat aslinya.

Hari Minggu pun tiba, pagi-pagi ia jogging bersama temannya yang bernama Citra. Sedangkan aku bermain basket bersama teman di dekat rumah, sambil menunggu Sani dan Citra sampai di Taman Kota. Kira-kira pukul 11.30, Sani bbm aku kalau ia dan temannya sudah sampai di Taman Kota. Aku menyuruhnya menunggu sebentar karena aku harus berganti pakaian dahulu. Setelah selesai, aku segera berjalan menuju Taman Kota karena mereka sudah menunggu lama. Pertemuan pun terjadi, aku hanya basa-baai saja, lalu aku diajaknya masuk ke perpustakaan. Ya, aku mengikutinya. Aku, Sani, dan Citra mencari buku untuk dibaca. Setelah menemukan, Sani mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan membaca. Aku sibuk dengan buku yang aku pilih, sedangkan Sani dan Citra sibuk dengan gadgetnya. Ternyata mereka sibuk mengambil fotoku secara diam-diam, aku mengetahuinya namun aku hanya diam karena aku masih ragu untuk berbicara. Beberapa menit kemudian, Sani mengeluh bosan dengan Citra. Akhirnya mereka mengajakku jalan-jalan, beberapa saat kemudian aku merasa lapar. Lalu aku mengajak Sani dan Citra untuk menemaniku makan. Sesampainya di tempat makan, aku memesankan makan untuk kita. Sambil menunggu, mereka sibuk dengan gadgetnya. Aku hanya diam sambil membolak-balik hp. Tak lama kemudian, makanan sudah tersaji, setelah makan selesai Sani mengajakku foto bareng. Ya aku ikuti saja, dan aku ingat akan memberikan surprise karena sudah janji sebelumnya. Selesai di tempat makan, kita pulang naik angkutan umum. Lalu aku memberikansurprise yang berupa bunga saat aku turun dari angkutan umum tersebut. Aku memberikan bunga itu tanda persahabatan dan Sani menerima dengan senyum manis.

Berjalannya waktu ke waktu, banyak anak yang tidak menyukai pertemananku dengan Sani. Tetapi, aku tetap saja berteman baik dengan Sani. Aku dengan Sani sering bertemu. Sani selalu megajak temannya jika ingin bertemu denganku. Tetapi saat hari Jumat sebelum pramuka, Sani mengajak bertemu. Saat bertemu, Sani sibuk dengan teman-temannya, Citra dan Vio. Jam menunjukkan pukul 13.00, aku menyuruh mereka untuk segera kembali ke sekolah untuk pramuka. Citra dan Vio akhirnya kembali ke sekolah, namun Sani tetap tidak mau kembali ke sekolah. Mungkin karena ingin lebih kenal denganku. Aku dan Sani bercerita banyak hal dan kelihatannya Sani merasa bahagia dengan leluconku. Matahari telah ke ufuk barat, aku mengantarkan Sani untuk pulang ke rumahnya. Keesokkan harinya, Sani mengajakku untuk ke rumah Frina sekaligus merayakan helloween. Aku mengikuti saja karena aku di rumah sendiri. Sepulang sekolah, aku, Sani, dan Frina segera ke rumah Frina. Sesampainya di rumah Frina, Sani dan Frina menyiapkan bahan untuk coret muka. Setelah selesai, Sani dan Frina mencoret-coret muka sendiri. Namun aku tidak mau, akhirnya Sani mencoret-coret mukaku. Semua muka penuh dengan coretan, lalu kita berfoto-foto. Hari sudah sore, saatnya pamit untuk pulang tetapi Sani mengajak aku dan Frina untuk jalan-jallan, duduk, dan bercerita. Haripun semakin petang, angkutan umum sudah tak ada, akhirnya aku mengantarkan Sani pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, hari sudah gelap, aku meminta izin ibuku untuk menginap di rumahnya. Ibuku mengizinkan karena saat itu malam minggu.

Singkat saja, pagi harinya aku dan Sani sibuk dengan gadget. Saat itu, penggemarku yang bernama Ida dan Nura maaih menghubungiku. Namun setelah tahu jika aku sedang di rumah Sani. Tiba-tiba Ida dan Nura jarang menghubungiku. Terutama Dina. Dina menyindirku begitu tahu saat itu aku tak pernah menghubunginya lagi karena aku sibuk dengan teman baruku, Sani. Mungkin memang salahku terlalu sibuk dengan teman baru. Akhirnya saat itu juga, pertemanan aku, Dina, Ida, dan Nura semakin jauh. Mungkin karena mereka tidak menyukai jika aku sering bermain dengan Sani. Tetapi aku tak peduli dengan hal itu, aku tetap berteman baik dengan Sani.

Haripun mulai berganti dan aku masih menjadi teman baik Sani. Suatu hari aku dan Sani melakukan hal buruk. Dan setelah orang tua kita mengetahuinya, mereka marah besar. Semenjak itu awal timbulnya pertemananku dengan Sani pecah. Kita saling salah paham dan menyalahkan satu sama lain. Saat itu teman dekat Sani yang bernama Citra dan Vio mulai menjauhi Sani. Begitupun Frina. Aku tak tahu alasnannya namun menurut gosip yang aku dengar, Sani anak yang tidak baik. Aku tetap tidak peduli dengan hal itu. Namun setelah ibuku mengetahui tentang hal itu, ibuku langsung megelak jika aku berteman dengan Sani. Akhirnya aku menjauhi Sani untuk beberapa waktu. Frina tiba-tiba curhat tentang kejelekan Sani. Frina melarangku untuk tidak cerita hal itu krpada Sani. Jujur saja aku tak sanggup jika suruh berjanji tentang hal itu. Hari Minggu aku mengajak Sani main untuk permintaan maafku. Di tempat makan Sani meminjam hpku dan saat itu aku lupa tak menghapus percakapan antara aku dan Frina. Aku meminta hpku kembali namun Sani marah. Akhirnya Sani membaca percakapanku dengan Frina. Setelah membaca, Sani terlihat sedih dan menangis. Aku sudah berkihianat dengan Frina, saat itu juga aku sudah janji untuk main ke rumah Frina akhirnya aku mengakui kesalhanku dan Frina memblokir bbm ku. Itu memang salahku.

Semua teman baruku dan penggemarku menjauhiku. Aku meminta maaf ke Ida dan Nura diterima. Tetapi Frina dan Sani belum memaafkanku hingga sekarang. Aku tak akan memirkan Sani dan Frina untuk memaafkanku karena aku telah berusha untuk minta maaf. Tetapi aku tak akan memaksa untuk memaafkanku. Aku akan tetap berusaha tidak memiliki rasa benci dan akan tetap baik keoada mereka. Saat aku melamun sendiri kadang aku teringat masa-masa duku saat semua ada untukku tetapi itu semua telah hilang. Aku hanya bisa menerima dan mengingatnya saja.

Walaupun begitu masih saja ada teman baruku yang masih ingin bermain denganku yang bernama Dina. Dina sangat setia menjadi sahabat baruku. Aku merasa bersalah kepadanya atas kesalahanku masa lalu dan aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahanku lalu. Dina selalu menasihatiku saat aku memiliki kesalahan. Aku kembali ke teman lamaku yang selalu ada untukku, menerima aku apa adanya serta aku memiliki sahabat yang baik yaitu Dina. Begitupun Sani, ia kembali kepada Citra, Vio, Frina, dan teman lainnya.

Penulis: (Adinda Nurfitriyana/IX C/03)

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
1
Lol
Love
0
Love
OMG
6
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
4
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kenangan atau Kebahagiaan

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format