SEBILAH PISAU


Oleh: Riza Indri

Kau terus saja tersenyum dengan sinis. Raut wajahmu begitu menggambarkan kepuasan dan keberingasan. Sesekali kau menjilat pisau penuh darah yang terlihat tajam dan semakin mencekam. Sepertinya kau sudah lupa, berapa kali kau menggunakan pisau itu.

Tubuhmu terlihat lelah. Namun naluri terliarmu, mendorongmu untuk terus menyelesaikan pekerjaanmu saat itu. Beberapa kali kau terlihat mondar-mandir mengitari meja dimana sesosok mayat tergeletak di sana. Sepertinya kau terlihat bingung, harus memotong dari bagian apa.

Kau terlihat sudah memutuskan. Saat itu, kau mendekati mayat gadis ayu yang dengan iba terus menatapmu. Namun kau tidak peduli, karena memang kau tak lagi memiliki sesuatu yang disebut dengan hati.

Dengan keras, kau menarik daun telinga gadis tak bernyawa itu. Selanjutnya, kau mulai memainkan pisaumu. Sungguh kau terlihat sangat mahir. Dan lagi, wajahmu menggambarkan kepuasan dan kebahagiaan.

Dengan detail dan sangat teliti kau berhasil memisahkan antara daging dan kulit dan antara daging dan tulang. Tidak lupa pula, kau menyatukan bagian tubuh sesuai pasangannya. Tangan dengan tangan dan kaki dengan kaki. Kemuadian kau bungkus bagian-bagian tubuh itu sendiri-sendiri.

Kau masuk ke ruangan yang begitu gelap dan pengap. Bukan untuk menyendiri, melainkan untuk menyimpan bahan makananmu untuk beberapa hari nanti. Dengan begitu rapat kau menutup daging-daging yang telah kau kuliti. Tidak lupa kau kubur dagingmu dengan balikan-balokan es di atasnya. Ternyata kau menggunakan bantuan es untung menjaga keawetan persediaan makananmu.

Kau menuju ruang keluaraga rumahmu. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana karena memang kau satu-satunya penghuni rumahmu. Di atas meja sudah tersedia semangkuk besar makanan favoritmu. Sup Jari, begitu kau memanggil makanan itu. Sup itu tidak lagi hangat, namun itu tidak menghilangkan semangatmu untuk terus menyantap. Dengan detail kau mengunyah setiap jari yang ada di supmu. Kau begitu lahap. Ah, sepertinya kau mendapat kesusahan saat mengunyah ibu jari kaki. Kau terus berusaha dan berusaha, sampai akhirnya jari kaki hanya tinggal sisa tulangnya saja.

Selesai makan kau kembali ke ruang kerjamu dan membereskan sisa pekerjaanmu. Kau diam sejenak dan berfikir “Ah, untuk beberapa hari ini aku tak perlu mencari bahan makanan lagi.”

 

By : Cerita Pena

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
1
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SEBILAH PISAU

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format