GADISKU


“lihat lihat! dia kembali lagi.

Benarkah? Dia datang lagi?

Iya benar, karena dia selalu ke sini setiap hari minggu selama tiga tahun terakhir. “

Aku mendengar percakapan dua pelayan kafé yang tampaknya mulai bosan dengan gadis itu. Tidak seperti diriku, aku justru senang dengan setiap kehadirannya. Tanpa adanya alasan yang special, hanya senang saja. Aku juga tak tau mengapa bisa begitu.

Dia, gadis itu, masih sama seperti tiga tahun lalu sejak pertama aku melihatnya. Manis dan penuh kesedihan. Karena dirinya pula, aku selalu datang ke kafe ini setiap hari minggu selama tiga tahun belakangan. Tidak untuk menjadi pelanggan tetap kafe ini, melainkan hanya duduk memandangnya, memeperhatikan setiap gerak geriknya, dan tidak pernah membeli apa-apa. Kalau ditanya apakah pihak kafe marah jika aku datang dan tidak membeli apa-apa? Jawabanya adalah tidak, karena aku bisa masuk kafe ini kapanpun dan sesukaku tanpa harus membeli satu menupun. Lucu memang, tapi untuk hal ini aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Aku tidak begitu memusingkanya, yang penting aku bisa terus memandang gadisku. Ya, gadisku sebutan yang kuberikan padanya.

Ah, aku jadi teringat kali pertama aku melihatnya. Hari itu hari minggu, tepatnya minggu 5 Januari 2014. Saat itu hujan lebat beserta angin kencang. Aku duduk sendiri di kafe ini. Tanpa adanya teman atau sekedar orang bilang “Hai” kepadaku. Aku tidak memeperdulikannya karena memang aku tidak mengenal mereka semua. Tidak seperti sekarang, waktu itu aku tidak tahu apa tujuanku datang ke kafe ini. Aku hanya duduk diam dan bingung akan segala kemudahan yang entah dari mana tiba-tiba kudapatkan. Saat itu aku berhasil keluar dari kebingunanku karena ada seorang gadis yang berdiri di luar kafe yang begitu menyita perhatianku. Ya, dia adalah gadisku.

Saat itu gadisku membiarkan tubuhnya di guyur oleh hujan. Dia tidak memperdulikan sekitar. Dia hanya berdiri menangis sesengukan, terus menangis dan akhirnya limbung terduduk di tengah-tengah hujan. Entah apa yang dia tangisi, yang pasti dia menangis sekan-akan dia menagis untuk yang terakhir kalinya. Dia menangis, seakan semua orang di dunia ini membencinya. Bahkan dia menangis seperti seorang bocah yang kehilangan mainanya yang paling berharga, meraung sesenggukan tanpa suara. Siapapun yang melihatnya saat itu pasti tau ada hal yang teramat menyakitkan yang terjadi pada gadisku saat itu. Dan sejak saat itu gadisku selalu datang ke kafe ini setiap hari minggu. Walau cuma sekedar memesan Lemon sequash duduk termangu dan menikmati kesedihannya. Dia jarang bicara, bahkan sama pelayan kafe sekalipun. Saking jarang bicaranya aku bahkan baru tau nama gadisku setahun belakangan ini. Nama gadisku Mala.

* * *

Aku tau nama gadisku Mala setelah pada satu waktu yang lalu, aku duduk mendekatinya dan tanpa sengaja dia berbicara padaku. Gadisku bicara padaku dan benar-benar bisa melihatku. Saat itu, gadisku duduk tanpa mengindahkan menu pesanannya. Matanya menerawang keluar jendela, tempat kali pertama aku melihatnya. Expresinya sama seperti sebelumnya muram dan penuh kesedihan. Ketika aku duduk mendekatinya, wajah gadisku menunjukkan expresi yang berbeda. Matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka, seperti seseorang yang sedikit terkejut. Hmm…seakan-akan dia bisa melihatku. Tapi aku belum benar-benar percaya dia bisa melihatku, sampai pada akhirnya dia ceritakan semua beban dan kesedihan yang ada di hatinya padaku. Sejak saat itu, aku jadi semakin ingin terus memperhatikan gadisku. Bagaimana tidak, gadisku seorang wanita yang ditinggal calon suaminya, tepat sehari sebelum acara pernikahan mereka. Bukan pula maut yang membuat calon suami gadisku meninggalkan dirinya. Calon suami gadisku meninggalkannya karena alasan yang tidak masuk akal menurutku. Bahkan menurutku, mungkin dia meninggalkan gadisku untuk wanita yang baru. Ah, tragis benar nasib gadisku.

* * *

Ini masih sama seperti tiga tahun lalu. Dia tidak datang. Sepertinya dia benar-benar sudah melupakanku. Sungguh sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa dia tega meninggalkanku tepat sehari sebelum hari pernikahan kita. Ya, dia pergi begitu saja tanpa adanya pesan ataupun salam perpisahan. Dia hanya mengatakan bahawa dia ragu dengan pilihanya. Yaitu pilihan untuk menikahiku. Mungkin keadaan saat itu, bukan sikap dia yang begitu jahat padaku melainkan sikap bodohku yang dengan senang hati mengiyakan lamarannya, padahal kita baru pacaran tiga bulan. Saat itu aku begitu yakin padanya. Aku begitu percaya bahwa dia jodoh dan belahan jiwaku. Bukannya kalau memang jodoh tidak  teruji waktu? Cih, aku memang bodoh, baik sekarang maupun saat itu.

 

Penulis : CERITA PENA

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
0
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GADISKU

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format