ITULAH KEINDAHANNYA, SEBUAH PUISI TANPA SAJAK


Malam telah semakin pekat, namun tak berarti menakutkan. Bukankah memang yang pekat selalu menghangatkan. Seperti se-cangkir kopi lampung, yang berada di meja usang, di pojokan kedai kopi. “Kedai Cinta” begitu orang-orang memanggilnya. Sesuai namanya “ Kedai Cinta” , inilah tempat orang-orang gila dan kesepian menyambut cintanya. Ada Anwar si pecinta sastra, Joni sang aktivis, dan Budi si penggila filsafat. Mereka bertiga adalah tuan, dari sebuah meja, di pojokan kedai tersebut. Sebuah meja paling rusak, dari kedai yang berisi orang-orang gila itu. Namun kenapa kopinya hanya satu ?, bukankah mereka bertiga ?. Sebuah pertanyaan omong kosong, yang akan dijawab dengan alasan omong kosong pula. Mereka selalu mempunyai alasan yang masuk akal, untuk sebuah tindakan yang tidak masuk akal.

“ Bukankah hanya rasa saling memiliki, berbagi, dan mengerti yang akan memperkuat sebuah rasa. Kau tahu kenapa persahabatan kami bertahan lama ?, karena kami betul-betul memegang prinsip tersebut, dan inilah contohnya. Jangan kira kami nggak sanggup buat beli kopi sendiri-sendiri. Namun hal ini hanyalah cara, agar diantara kami selalu saling memperhatikan dan berbagi. Sehaus-haunya aku, tak mungkin mau aku menengguk kopi ini sendirian, dan begitulah kami bertiga”. Kata Budi, saat beberapa bulan yang lalu seseorang menanyainya tentang hal tesebut.

Diantara mereka bertiga, Budi memang orang yang paling menyebalkan, setidaknya bagi sebagian orang. Namun bukan berarti Anwar dan Joni tidak menyebalkan. Hanya saja kebiasaanya berbicara panjang lebar, membuat banyak orang tak menyukainya. Termasuk Anwar. Bagi Anwar omongan Budi sama sekali tak penting, mengawang-awang dan jauh dari realita.

“Lihatlah si Budi, dalam kata-katanya seolah dia sedang mengatakan kebenaran, tapi sejujurnya dia sedang benar-benar jauh meninggalkan kebenaran”. Ujar Anwar suatu waktu pada Joni

Bagi Anwar tak ada hal apapun yang perlu di jelaskan, biarlah jiwa dan orientasi seseorang yang meng-interpretasikan segala sesuatu. Itulah hal yang selalu ia pegang dalam setiap puisinya. Biarkan orang yang sedang sakit hati, merasakan kepedihan yang mendalam. Biarkan seseorang yang sedang jatuh cinta, meraskan keindahan yang sempurna. Dan biarlah seseorang yang sedang bercita-cita, menemukan pijakan dan harapan.

Mereka bertiga memang aneh… sangat aneh bahkan, tapi tunggu dulu sampai kita mengetahui tentang Joni. Seorang aktivis HAM, yang benar-benar kesohor di kampusnya. Coba sebutkan nama itu di Universitas Nusantara, tempatnya berkarir sebagai seorang aktivis. Tak mungkin ada orang yang tak mengenalnya, setidaknya mereka akan tau Joni walau hanya sebatas nama. “Joni yang tukang demo itu ya, Joni yang sering dipanggil dosen itu ya, Joni yang sering gonta-gonti pacar itu yaa”, itulah beberapa hal yang teman-teman kampusnya ketahui tentang Joni. Termasuk perilaku Joni yang suka gonta-ganti pacar itu, baginya hal apapun yang dilakukan Soekarno adalah fatwa. Mendapat pahala jika dijalankan dan dosa apabila ditinggalkan, termasuk caranya memperlakukan wanita. Joni memang tak terlalu tampan. Tapi memang harus diakui, bahwa kata-katanya adalah sebuah candu berdosis tinggi.

Namun dibalik jiwa-jiwa aneh itu, inilah sebuah ikatan persahabatan yang di inginkan semua orang, ikatan persahabatan antara pria-pria dewasa. Yang mana tak akan mungkin kita temukan sebuah konflik, seperti dalam drama FTV. Semacam tikung-menikung, dan hal-hal sepele lain yang tak perlu diributkan. Mereka telah memiliki sebuah kecintaan yang esklusif terhadap sesuatu. Misalnya Anwar si pecinta sastra. Baginya keindahan adalah cinta itu sendiri, dan sesuatu yang indah haruslah mampu membuat bahagia segala sesuatu disekitarnya. Oleh karena itu, dia sangat membenci sesuatu yang dipaksakan dan memaksakan. Karena tak akan terasa indah, walaupun itu sebuah kebenaran. Harmonisasi dan keselarasan adalah hal yang utama baginya.

Kini tak terasa malam semakin melarut, tepat pukul 11.00 malam. Menurut perhitungan jam tangan klasik ber-angka tahun 1975, milik Budi. Memang tak terlihat mewah, bahkan bisa dibilang kusut. Namun terlihat benar-benar indah, saat terlingkar di lengan Budi yang kecil dan berwarna kuning.

Seperti biasa obrolan ngalur-ngidul mereka cukup ampuh membunuh waktu, hingga ia benar-benar tak berkutik lagi. Juga membunuh kedinginan malam, setelah sehabis Maghrib tadi dilanda hujan deras. Tapi tak tau dari mana mulanya, hingga kali ini sampailah obrolan mereka tentang makna dan hakikat keindahan, dan kalian tentu dapat membayangkan, betapa bahagianya Anwar dengan jiwa sastrawanya.

Dengan raut muka serius, seperti seorang bocah yang mencari lilin, saat listrik di rumahnya padam. Budi mengawali sebuah percakapan,. “Menurutmu apa itu keindahan Jon ?” .

“Ah, lucu banget kamu bud. Apa menariknya hal ini, sampai-sampai berani sekali kau menyakanya padaku. Lihatlah, masih banyak hal-hal penting lain yang perlu kita diskusikan. Penindasan pada rakyat Papua, konflik agraria di Kendheng, sampai pengungkapan atas hilangnya Widji Tukul yang sampai sekarang tak jelas rimbanya. Tolong gantilah pertanyaanmu yang tak bermutu itu” kata Joni sebal, sambil menyeruput secangkir kopi Lampung di atas meja..

“Hey kau aktivis gadungan, coba tanya pada dirimu sendiri. Seberapa taukah kamu tentang permasalahan tersebut ?, dari mana kau mendapatkan informasi tentang masalah-masalah tersebut ?. Apakah kau sudah memikirkan tentang hal itu, kalau belum fikirkanlah dan cari jawabanya. Bukankah dari setiap masalah pasti ada dua sisi yang bertentangan “pihak pro dan pihak kontra” , mereka semua pasti memiliki alasan pembenarnya masing-masing, tapi mana yang benar-benar “benar” dan mana hanya pembenaran belaka. Kau tidak boleh menarik sebuah kebenaran dari keberpihakan, karena itu akan membuatmu tidak objektif dalam melihat suatu hal”.

Joni memang tak pernah mau kalah, dia akan tetap berdebat. Sampai lawan bicaranya telah menyerah. “Ah, apa taumu tentang perjuangan BUDI… B-U-D-I. Hal-hal yang kau kerjakan sama sekali tidak bermutu, kau hanya bisa menafsirkan segala sesuatu tanpa memberikan perubahan. Omong kosong !. Bagiku sudah jelas, yang harus aku lakukan sebagai mahasiswa. Memihak wong cilik, memihak kaum-kaum marhaen yang terlantar itu. Kalaupun dikemudian hari kutemui bahwa yang kulakukan ternyata salah, tentu aku tidak akan malu lagi, karena setidaknya aku sudah berjuang”.

“Ah kau ini sudah bebal !…  tolol lagi !. Aku cuma takut jika kau hanya diperalat oleh politikus-politikus itu. Kita tak tahu apa akar paling dalam dari konflik ini, belum saatnya kita terlibat dalam kebijakan-kebijakan publik yang strategis. Porsi kita saat ini adalah menjadi pembelajar yang baik. Jadi, ketika suatu saat kita diharuskan menjadi penentu kebijakan, maka kebijakan terbaiklah yang akan kita ambil” kata Budi menjelaskan dengan wajah yang tak lagi bergairah

Beginilah obrolan-obrolan mereka, antara masing-masing pihak selalu memiliki kebenaranya masing-masing. Bukan karena mereka orang yang keras kepala, hanya saja mereka adalah orang-orang yang telah memilki kecintaan yang mendalam terhadap suatu hal. Namun seorang penengah nampaknya selalu ditakdirkan hadir diantar mereka bertiga. Tergantung pada apa dan seperti apa, topik serta suasana yang terjadi. Kali ini Anwar telah memposisikan dirinya sebagai seorang penengah. Tentu bukan karena ia sok bijak, tapi lebih kepada bahwa ia merasa,  “akulah orang yang paling mengerti tentang keindahan dan biar kutunjukan pada kalian semua tentang keindahan” katanya dalam hati.

“Begini saja Jon, kalau perdebatan ini kita teruskan tak akan ada akhirnya. Lagi pula aku sudah mulai ngantuk, suasananya udah nggak asik lagi” kata Budi dengan mimik wajah yang tak mengenakan. Ditambah lagi, mata sipitnya yang melirik sinis  ke arah Joni.

“Yaudah menurutmu gimana War, apa itu keindahan ?” Tanya Joni setengah putus asa, atau mungkin dia merasa tak enak hati. Entahlah.

“Ah kalian ini… memalukan !. Kalian semua membicarakan keindahan tapi kalian sendiri tak memperlihatkan bentuk-bentuk keindahan, nanti akan ku kasih tau pada kalian apa itu keindahan, sekarang tolong belikan aku sebungkus rokok  Gudang Garam” kata Anwar meyakinkan, tanpa siapapun tahu bahwa sebenarnya ia sedang mengulur waktu untuk menemukan sebuah jawaban yang meyakinkan.

“Oh tuhanku yang manis, tolong bantulah aku menemukan definisi dari keindahan. Jangan kau permalukan aku sebagai calon sastrawan terkenal, please” gumam Anwar dalam hati.

Itulah Anwar, walaupun dia bukanlah seorang pecandu agama. Namun jangan ditanya, dimana posisi tuhan dihatinya. Tuhan baginya adalah kesempurnaan. Awal perkenalanya dengan tuhan bukanlah saat ia mengemis dan mengiba, akan suatu hal. Melainkan tak lebih dari pencarian suatu muara, dari sebuah aliran air yang bergejolak begitu dahsyat. Tapi tuhan memanglah maha romantis, ia selalu memberi suatu yang bahkan tak pernah kita minta.

Tanpa banyak pertanyaan, Joni dan Budi pergi untuk membeli rokok untuk Anwar. Entah apa yang membuat mereka seperti terhipnotis. Tak seperti biasanya hal demikian terjadi. Mereka berdua bagaikan seorang pemuda yang kehausan di luasnya padang pasir, hingga akhirnya menemukan seorang yang membawa sebotol  minuman segar. Apapun akan mereka lakukan agar minuman tesebut dapat mereka minum, dan datanglah kesegaran yang didamba. Kira-kira seperti itu analogi yang cocok, untuk situasi mereka malam ini. Kini tinggalah Anwar sendiri, masih di meja pojokan kedai. Semakian bosan Anwar menunggu, ditambah lagi ia yang belum dapat menemukan sebuah rangkaian kata-kata yang pas. Tiba-tiba Anwar terdiam, matanya tak berkedip sedikitpun. Ketika samar-samar terdengar suara kaki melangkah, dari sebuah kedai yang telah sepi.

“Hey war gimana kabarmu, nongkrong kok sendirian aja sih. Ajak-ajaklah” kata suara perempuan di depan Anwar

“Eh kamu din, lama nggak ketemu ya. Kata siapa aku sendiri, itu temen-temen lagi beli rokok. Lha kamu ngapain malem-malem kesini ?” kata Anwar gugup. Ketika bertemu Dinda. Sebuah karya puisi terbaik, yang tak pernah bisa ia pahami.

“Boring di kamar war, hehe” kata Dinda cengengesan

“Yaudah sini, ikut aja ngobrol sama temen-temenku”

“Enggak ah, takut ganggu. Lagian aku juga sambil mau baca buku ini di depan, duluan yaa” Kata Dinda dengan memperlihatkan sebuah Novel sastra karya Eka Kurniawan, “Cantik Itu Luka”.

Dari meja pojokan. Anwar masih memperhatikan Dinda yang sedang asyik melahap kata perkata dari buku itu, matanya tak berkedip sama sekali. Baginya tak boleh ada sedikitpun keindahan yang terlewatkan, semua gerakan Dinda bagi anwar adalah keindahan yang sempurna. Hembusan nafasnya bagaikan sebuah orchestra karya Erwin Gutawa, degup langkahnya adalah perpaduan antara kegagahan dan keanggunan, sorot matanya adalah ruang penuh ketentraman, kata-katanya bagaikan pelukan seorang ibu yang meneguhkan hati, dan hal-hal lain yang tak akan mungkin kita pahami seutuhnya, jalan fikiran seorang penyair yang sedang jatuh cinta.

“Hey war, bengong aja kamu. Kalau mikir itu nggak usah dalem-dalem, nih rokoknya” kata Joni mengagetkan Anwar yang sedang menyelami bait-perbait mahakarya puisi itu.

“Kalian juga sih kelamaan, beli rokok apa antri sembako… lama banget” timpal Anwar tak mau kalah

“Udah… udah, kalian ini. Hari semakin malam. Cepet jawab, habis ini kita pulang” kata Budi menengahi

“Okee, langsung aku jawab ya” kata Anwar, dengan mengubah gesture tubuhnya menjadi lebih berwibawa. Sambil menyalakan sebatang rokok, dibantu sebuah pipa dari gading gajah yang ia dapatkan dari seorang pembaca puisinya, di kolom sastra koran Pembaruan. Sebuah puisi berjudul “Sebatang Rokok yang Terlupakan”.

“Keindahan itu bagiku simpel, keindaan adalah misteri. Sebuah puisi tidak akan menjadi benar-benar indah jika dibuat menjadi blak-blakan dan sangat terbuka, sehingga dengan misteri orang dapat terbang berimajinasi dengan pijakan berupa kata-kata. Ambil contoh sebuah puisi terkenal karya Sapardi Djoko Darmono.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang disampaikan api kepada kayu hingga membuatnya menjadi abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang disampaikan angin kepada awan hingga membuatnya menjadi tiada.

Puisi tersebut menjadi benar-benar indah, karena banyak misteri yang masih, dan akan tetap tersimpan. Ada orang yang menginterpretasikanya dengan kesetiaan, ada orang yang menyebutnya ketulusan, bahkan ada orang yang berfikir nakal tentang hal tersebut. Begitupun dengan wanita, kita akan tetap sulit membaca dan memahaminya sampai kapanpun, dan itulah keindahanya. Biarkanlah tetap begitu, jangan buat menjadi berbeda. Tuhan sudah memberikan rumus, dan itulah kebenaran yang sejati. Karna keindahan utama dari seorang wanita bukanlah wajahnya, bukan kecerdasanya, bukan pula lakunya. Melainkan kemampuanya tetap menjadi sebuah misteri yang teramat dalam, lebih dalam dari palung Mariana di samudra Pasifik” kata Anwar mengakhiri obrolan malam mereka bertiga, dengan tatapan mata yang menyorot tajam ke arah Dinda.

 

Karya : Rahmat Hidayat (rh1731993@gmail.com)

What's Your Reaction?

Cute
0
Cute
Fail
0
Fail
Geeky
0
Geeky
Lol
0
Lol
Love
0
Love
OMG
0
OMG
Win
0
Win
Wtf
0
Wtf
Yaaas
0
Yaaas

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ITULAH KEINDAHANNYA, SEBUAH PUISI TANPA SAJAK

log in

Captcha!

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format